Showing posts with label MIGAS. Show all posts
Showing posts with label MIGAS. Show all posts

Tuesday, January 17, 2012

Macam-macam Perpindahan Panas


  • Perpindahan Panas Secara konduksi

Perpindahan panas secara konduksi adalah perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan antara satu dengan yang lain tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul secara fisis.

  • Perpindahan Panas Secara Konveksi

Perpindahan panas secara konveksi adalah perpindahan panas dimana panas dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain yang disertai gerakan partikel secara fisis.

Konveksi adalah proses transport energi dengan kerja gabungan dari konduksi panas penyimpanan energi dan gerakan mencampur. Konveksi sangat penting sebagai mekanisme perpindahan energi antara permukaan benda padat dan cairan atau gas.



  • Perpindahan Panas Secara Radiasi

Perpindahan panas secara radiasi adalah pancaran yang berbentuk gelombang elektromagnetik dari semua permukaan benda panas ke benda dingin melalui suatu media udara ataupun hampa udara.
Klik disini untuk melanjutkan.

Perpindahan Panas


Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain tetapi tidak dapat diciptakan dan juga tidak dapat dimusnahkan. Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari satu daerah ke daerah lain akibat perbedaan temperature antara kedua daerah tersebut.
Akibat-akibat yang ditimbulkan panas didalam suatu proses antara lain Perubahan suhu, perubahan tekanan, perubahan fase, reaksi kimia dan kelistrikan. Mekanisme perpindahan panas pada umumnya mengenal tiga cara perpindahan panas yaitu : konduksi, konveksi, dan radiasi.

klik disini untuk mengetahui macam-macam perpindahan panas.

Chevron Indonesia Company


Chevron Indonesia Company ( CICo ) pada tahun 1968 menandatangani kontrak kerjasama produksinya yang pertama untuk blok lepas pantai di barat utara Sumatera. Namun justru KKS ( kontrak kerjasama ) kedua ditandatangani pada tahun yang sama, hal ini menyebabkan didirikannya perusahaan yang waktu itu dinamakan UICo. KKS ini terletak di Kalimantan Timur mencakup daerah konsesi di darat dan lepas pantai. Tahun 1970, CICo menemukan lapangan minyak dan gas lepas pantai terbesar di Indonesia, Attaka Di Selat Makassar.

Kegiatan eksplorasi dilanjutkan dan dalam kurun waktu dari tahun 1973-1995 CICo menemukan lapangan minyak dan gas yaitu : Sepinggan, Yakin, Melahi, Kerindingan, Santan, dan Lawe-lawe yang terletak di lepas pantai Kalimantan Timur. Pada tahun 1996, CICo menggeser fokus kegiatan eksplorasinya ke Laut dalam di Selat Makassar, yang ditandai dengan penemuan penting lapangan-lapangan West Seno dan Merah Besar setahun kemudian.

Pemegang saham CICo adalah Chevron Coorporation, merupakan salah satu perusahaan energi terbesar di dunia. Anak-anak perusahaan Chevron beroperasi disekitar 180 Negara di seluruh dunia dan memperkerjakan ± 53.000 karyawan. Di Indonesia, Chevron beroperasi dibawah Indo Asia Bussiness Unit ( IBU ) yang mencakup kegiatan operasi di Indonesia dan Fillipina ( Geothermal ), yang mana CICo merupakan salah satu badan usahanya. Selain CICo, IBU juga mengelola PT. Chevron Pasific Indonesia perusahaan KKS yang beroperasi di Provinsi Riau dan Sumatera Utara dan badan usaha Geothermal & Power, di Indonesia Chevron Geothermal Indonesia, ltd. Dan Chevron Geothermal Salak, ltd. Dan di Fillipina, Chevron Geothermal Philippines Holding Inc. (CGPHI).

Chevron Indonesia Company telah beroperasi di Indonesia selama 39 tahun. Chevron Indonesia Company bekerja sebagai mitra dari pemerintah Republik Indonesia melalui KKS dengan BP MIGAS.

Saat ini Chevron Indonesia telah mengoperasikan 12 lapangan di KKS Kalimantan Timur dan satu lapangan di KKS Makassar Strait. Mencakup daerah seluas 6.6 juta are atau 27,000 km2. Chevron juga memiliki kontrak untuk menyediakan pasokan gas ke Bontang instalasi pengolahan gas alam ( LNG ) terbesar dunia.

Sampai bulan Juni 2006 kegiatan operasi Chevron Indonesia didukung oleh 1,734 karyawan, yang mana 1,221 ditugaskan di Kalimantan Timur dan 513 di Jakarta. Chevron Indonesia Company dibelah oleh Delta Mahakam sebagai batas imajiner, menjadi 2 daerah utama : Utara & Selatan dan West Seno, trayek laut dalam Selat Makassar. Didaerah operasi Utara, Chevron Indonesia Company mengoperasikan lapangan-lapangan Attaka, Melahi, Kerindingan, Serang dan West Seno, serta terminal Santan.

Sedangkan didaerah operasi Selatan mengelola lapangan-lapangan Sepinggan dan Yakin, Terminal Lawe-lawe dan Base Camp, Pusat Logistik Penajam (PSB) dan kantor Pasiridge Balikpapan.

Chevron Indonesia Company memiliki 3 lapangan utama yaitu lapangan Attaka, Sepinggan, Yakin, dan West Seno. Terletak disebelah Selatan Delta Mahakam, lapangan Sepinggan dan Yakin telah memproduksi minyak dan gas selama 30 tahun. Sepinggan mulai beroperasi pada bulan April 1975, dan mencapai puncak produksinya pada tahun 1981. Dengan produksi sebanyak 26,000 BOPD. Yakin mulai berproduksi setahun kemudian dan mencapai produksi sebanyak 13,000 BOPD pada 1986.

Terminal Lawe-lawe merupakan tempat pengumpulan minyak dari lapangan Sepinggan dan Yakin yang kemudian diekspor dengan menggunakan tanker atau dialirkan melalui pipa ke penyulingan Pertamina Balikpapan.

Friday, December 17, 2010

SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI MIGAS INDONESIA

Minyak bumi mulai dikenal oleh bangsa Indonesia mulai abad pertengahan. Orang Aceh menggunakan minyak bumi untuk menyalakan bola api saat memerangi armada Portugis. Perkembangan migas secara modern di Indonesia dimulai saat dilakukan pengeboran pertama pada tahun 1871, yaitu di desa Maja, Majalengka, Jawa Barat, oleh pengusaha belanda bernama Jan Reerink. Akan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkandan akhirnya ditutup.
Penemuan sumber minyak yang pertama di Indonesia terjadi pada tahun 1883 yaitu lapangan minyak Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan oleh seorang Belanda bernama A.G. Zeijlker. Penemuan ini kemudian disusul oleh penemuan lain yaitu di Pangkalan Brandan dan Telaga Tunggal. Penemuan lapangan Telaga Said oleh Zeijlker menjadi modal pertama suatu perusahaan minyak yang kini dikenal sebagai Shell. Pada waktu yang bersamaan, juga ditemukan lapangan minyak Ledok di Cepu, Jawa Tengah, Minyak Hitam di dekat Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Riam Kiwa di daerah Sanga-Sanga, Kalimantan.
Menjelang akhir abad ke 19 terdapat 18 prusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pada tahun 1902 didirikan perusahaan yang bernama Koninklijke Petroleum Maatschappij yang kemudian dengan Shell Transport Trading Company melebur menjadi satu bernama The Asiatic Petroleum Company atau Shell Petroleum Company. Pada tahun 1907 berdirilah Shell Group yang terdiri atas B.P.M., yaitu Bataafsche Petroleum Maatschappij dan Anglo Saxon. Pada waktu itu di Jawa timur juga terdapat suatu perusahaan yaitu Dordtsche Petroleum Maatschappij namun kemudian diambil alih oleh B.P.M.
Pada tahun 1912, perusahaan minyak Amerika mulai masuk ke Indonesia. Pertama kali dibentuk perusahaan N.V. Standard Vacuum Petroleum Maatschappij atau disingkat SVPM. Perusahaan ini mempunyai cabang di Sumatera Selatan dengan nama N.V.N.K.P.M (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) yang sesudah perang kemerdekaan berubah menjadi P.T. Stanvac Indonesia. Perusahaan ini menemukan lapangan Pendopo pada tahun 1921 yang merupakan lapangan terbesar di Indonesia pada jaman itu.
Untuk menandingi perusahaan Amerika, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan antara pemerintah dengan B.P.M. yaitu Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij. Dalam perkembangan berikutnya setelah perang dunia ke-2, perusahaan ini berubah menjadi P.T. Permindo dan pada tahun 1968 menjadi P.T. Pertamina.
Pada tahun 1920 masuk dua perusahaan Amerika baru yaitu Standard Oil of California dan Texaco. Kemudian, pada tahun 1930 dua perusahaan ini membentuk N.V.N.P.P.M (Nederlandsche Pasific Petroleum Mij) dan menjelma menjadi P.T. Caltex Pasific Indonesia, sekarang P.T. Chevron Pasific Indonesia. Perusahaan ini mengadakan eksplorasi besar-besaran di Sumatera bagian tengah dan pada tahun 1940 menemukan lapangan Sebangga disusul pada tahun berikutnya 1941 menemukan lapangan Duri. Di daerah konsesi perusahaan ini, pada tahun 1944 tentara Jepang menemukan lapangan raksasa Minas yang kemudian dibor kembali oleh Caltex pada tahun 1950.
Pada tahun 1935 untuk mengeksplorasi minyak bumi di daerah Irian Jaya dibentuk perusahaan gabungan antara B.P.M., N.P.P.M., dan N.K.P.M. yang bernama N.N.G.P.M. (Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Mij) dengan hak eksplorasi selama 25 tahun. Hasilnya pada tahun 1938 berhasil ditemukan lapangan minyak Klamono dan disusul dengan lapangan Wasian, Mogoi, dan Sele. Namun, karena hasilnya dianggap tidak berarti akhirnya diseraterimakan kepada perusahaan SPCO dan kemudian diambil alih oleh Pertamina tahun 1965.
Setelah perang kemerdekaan di era revolusi fisik tahun 1945-1950 terjadi pengambilalihan semua instalasi minyak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1945 didirikan P.T. Minyak Nasional Rakyat yang pada tahun 1954 menjadi perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara. Pada tahun 1957 didirikan P.T. Permina oleh Kolonel Ibnu Sutowo yang kemudian menjadi P.N. Permina pada tahun 1960. Pada tahun 1959, N.I.A.M. menjelma menjadi P.T. Permindo yang kemudian pada tahun 1961 berubah lagi menjadi P.N. Pertamin. Pada waktu itu juga telah berdiri di Jawa Tengah dan Jawa Timur P.T.M.R.I (Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia) yang menjadi P.N. Permigan dan setelah tahun1965 diambil alih oleh P.N. Permina.
Pada tahun 1961 sistem konsesi perusahaan asing dihapuskan diganti dengan sistem kontrak karya. Tahun 1964 perusahaan SPCO diserahkan kepada P.M. Permina. Tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan B.P.M. – Shell Indonesia oleh P.N. Permina. Pada tahun itu diterapkan kontrak bagi hasil (production sharing) yang menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah konsesi P.N. Permina dan P.N. Pertamin. Perusahaan asing hanya bisa bergerak sebagai kontraktor dengan hasil produksi minyak dibagikan bukan lagi membayar royalty.
Sejak tahun 1967 eksplorasi besar-besaran dilakukan baik di darat maupun di laut oleh P.N. Pertamin dan P.N. Permina bersama dengan kontraktor asing. Tahun 1968 P.N. Pertamin dan P.N. Permina digabung menjadi P.N. Pertamina dan menjadi satu-satunya perusahaan minyak nasional. Di tahun 1969 ditemukan lapangan minyak lepas pantai yang diberi nama lapangan Arjuna di dekat Pemanukan, Jabar. Tidak lama setelah itu ditemukan lapangan minyak Jatibarang oleh Pertamina. Kini perusahaan minyak kebanggaan kita ini tengah berbenah diri menuju perusahaan bertaraf internasional.

Industri Migas Pilar Pembangunan Perekonomian Bangsa

Salah satu tantangan industri migas nasional adalah bagaimana meningkatkan tingkat keahlian, peran, dan partisipasi institusi dan usaha dalam negeri (local content) untuk industri migas. Sektor energi merupakan pilar pembangunan perekonomian bangsa untuk itu maka pertisipasi pengusaha nasional dalam industri migas harus ditingkatkan.

BP Migas sebagai Badan Hukum Milik Negara yang diberi amanah untuk mengawal kegiatan industri hulu migas, memiliki tanggungjawab untuk  mendorong penggunaan produksi dalam negeri, sesuai dengan Instruksi Presiden No.2 tahun 2009 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang/Jasa, dan Instruksi Presiden RI No.5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional.

”BP Migas menjadi lokomotif peningkatan penggunaan produksi nasional khususnya dalam industri migas dengan melakukan kerjasama dengan Depertemen Perindustrian, PT Dirgantara Indonesia terkait penggunaan alat-alat berat, transportasi dan industri alat apung”, ujar Deputi Pengendalian Operasi BP Migas, Budi Indarto dalam acara Orientasi Jurnalis 2009 yang mengambil tema, ”Ketahanan Energi Pilar Pembangunan Perekonomian Bangsa”, Rabu (25/11).

Lebih lanjut Deputi Pengendalian Operasi BP Migas mengatakan, BP Migas telah menekankan kepada KKKS bahwa penggunaan komponen dalam negeri bukan hanya sebatas penggunaan alat-alat berat, perkapalan dan transportasi udara saja namun semua fasilitas di kegiatan hulu migas."Semuanya harus menggunakan klasifikasi Indonesia termasuk fasilitas perbankan dan asuransi", ujarnya.

Industri penunjang memegang peranan penting bagi pengembangan sektor migas. Pengusaha diharapkan dapat pro-aktif dalam berbisnis dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah dan bank nasional telah berusaha keras dan proaktif mendukung pengembangan industri migas. 

Untuk meningkatkan kapasitas nasional BP Migas selain melakukan kerjasama dengan Departemen Perindustrian dan PT Dirgantara Indonesia juga melakukan kerjasama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi serta pengusaha-pengusaha lokal di tingkat daerah termasuk BUMD-BUMD dan Koperasi diharapkan dengan kerjasama ini akan dapat menggerakkan industri nasional khususnya dalam menunjang industri migas.

Like This yo. . .!!!

My Great Web page